Thariq dilahirkan pada tahun 50 H (670 M), di tengah suku keluarga Berber (Barbar, red.) dari kabilah Nafazah, di Afrika Utara.
Thariq berperawakan tinggi, berkening lebar, dan berkulit putih
kemerahan. Dia masuk Islam di tangan seorang komandan muslim bernama
Musa bin Nusair, orang yang dikagumi karena kegagahan, kebijaksanaan dan
keberanianya.
[1]
Jalan Ke AndalusiaMisi ekspansi pasukan Islam ke luar Jazirah Arab
bermula di masa Khulafaur Rasyidin, dengan tujuan menyebarluaskan Islam
ke seluruh wilayah yang memungkinkan untuk di jangkau pasukan Islam.
Maka tercapailah penaklukan atas Syam (Syiria, Palestina, dan
sekitarnya), Irak dan Iran (Persia).
Pasukan muslimin juga berangkat
menaklukan Mesir di bawah pimpinan panglima ‘Amru ibnul-‘Ash. Mesir
saat itu berada di bawah kekuasaan penjajah Romawi (Bizantium). Setelah
masuk ke Mesir, mereka menuju ke arah Burqah, lalu sampailah pasukan
Islam ke Tripoli (sekarang ibu kota negara Libya-red.) untuk
mengepungnya dan mendudukinya.
Pada masa kekhilafahan Usman bin
Afaan, pasukan Islam mulai membuka ekspansi ke kawasan Maghribi (Maroko
dan sekitarnya), di bawah komandan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Di
dalam pasukan terdapat putra-putra sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi
wa Sallam.
[2]Tekad
dan semangat mereka semakin kuat setelah berperang melawan pasukan
Romawi yang dipimpin Jurjir. Ekspansi itu berlanjut cepat hingga
memasuki kota Carthago di pantai Utara Afrika, sebelah utara kota Tunis
sekarang. Pasukan Islam di wilayah Ifriqiya ini di pimpin oleh komandan
Uqbah bin Nafi’. Ia memiliki wawasan yang luas tentang situasi daerah
itu. Selanjutnya ia membangun kota Qairawan (Kairaouan) di Tunisia,
untuk mengukuhkan keberadaan Islam di bumi Afrika.
Selanjutnya Uqbah
bin Nafi’ dan pasukannya bergerak kearah barat dan selatan dan sampai
ke Tangier (Arab: Tanja), sekarang Maroko. Dalam perjalanan pulang ke
Qairawan ia dihadang gerombolan suku Berber. Uqbah bin Nafi’ terbunuh
bersama tiga ratus tentaranya. Ia dimakamkan di suatu tempat yang
sekarang dinamai Sidi Uqbah (Tahuda) di Aljazair sekarang.
Kaum
muslim menuntut balas atas kematian Uqbah, dan mereka berhasil membunuh
Kasilah, komandan perang Berber. Namun, tindakan balas-membalas itu
tidak berkepanjangan, sebab orang Berber sudah merasa puas dengan
terbunuhnya Zuhair bin Qais yang membunuh Kasilah. Zuhair gugur di
Qadisiyyah (Irak).
Dan pada akhirnya pasukan muslimin berhasil
menaklukkan wilayah Ifriqiya di bawah komando Hasan bin an-Nu’man
al-Ghassani yang berhasil menceraiberaikan pasukan Berber. Ia juga
memorakporandakan pasukan Romawi, dan menang dalam perang melawan
pasukan Al-Kahin (Sang Dukun) sesudah menaklukkan Bazrat.
Setelah
itu datanglah Musa bin Nushair sebagai pemegang komando utama pasukan
muslimin di Afrika. Ia meraih berbagai kemenangan sampai jauh ke barat
di tepi samudera, dan kembali ke Qairawan sesudah terbina keamanan dan
ketertiban.
Saat itulah seorang komandan Berber bersama pasukannya
masuk Islam. Ia sebelumnya dikenal sebagai komandan penjaga di Tangier.
Ia adalah Thariq bin Ziyad.
Jalan ke daratan Spanyol terbuka luas
setelah Julian, pangeran Spanyol di Ceuta (Sabatah) meminta bantuan Musa
bin Nusair untuk menyerang dan menjatuhkan Raja Roderick dari bangsa
Visigoth yang berkuasa di Spanyol dari ibu kotanya di Toledo. Julian
marah karena Raja Kristen Roderick memperkosa adik perempuannya yang ia
titipkan ke Raja untuk bisa memperoleh pendidikan tinggi. Thariq dan
Julian pun berkawan dekat.

Menaklukkan Andalusia (Spanyol)Musa bin Nushair merasa perlu menguji
Count (Pangeran) Julian dengan mengirim 500 tentara di bawah komando
Tharif ke wilayah yang sampai kini dinamai Tarifa, di ujung paling
selatan Spanyol. Orang Arab menamakannya Jazira Tharif (Terifa). Itu
terjadi pada tahun91 H.
[3] Tharif membawa misi utama pengintaian kekuatan Kerajaan Bangsa Visigoth, serta penjajakan bagi sebuah operasi militer besar.
Gubernur Musa semakin yakin akan kejujuran Pangeran Julian, setelah
Pangeran Ceuta itu juga menyiapkan kapal-kapal yang akan digunakan untuk
menyerang Spanyol. Dan setetlah mendapat izin dari Khalifah Al-Walid
bin Abdul Malik di Damaskus, Musa pun memutuskan menyerang Spanyol.
Apalagi saat itu Raja Roderick di Toledo sedang menghadapi pemberontakan
di bagian utara kerajaannya. Untuk melaksanakan misi besarkannya itu,
Musa memilih seorang Berber, Thariq bin Ziyad, sebagai Komandan.
Panglima perang Thariq bin Ziyad bersama 7000 tentara, yang mayoritas
berasal dari suku Berber, menyeberang ke Spanyol di tahun 711 M. ia
mendarat dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya,
Jabal (gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.
Setelah
berhasil menyeberang ke daratan Spanyol, tiba-tiba Thariq mengambil
langkah yang hingga sampai kini membuat tercengang para ahli sejarah. Ia
membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangut pasukannya itu.
Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan
lantang berwibawa, dan tegas.
Dalam pidatonya yang penuh semangat, panglima Thariq berkata;
“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan
kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan
sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan
mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki
bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali
yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya
perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya,
akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap
kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian
dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan
kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya.
Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya
kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena
itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak
lebih buruk daripada nasibku…”Selanjutnya ia berteriak kencang: “Perang
atau mati!” Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh
anggota pasukannya.

Dan pada 19 Juli 711 M, pasukan Thariq yang saat itu berjumlah 12000
personil setelah ada tambahan pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan
Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai (Rio) Barbate. Peperangan
di bulan Ramadhan itu berlangsung sengit selama delapan hari. Pasukan
Roderick pada awalnya sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan
kanan pasukan mereka berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Dan
pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya dipukul mundur. Pasukan
Islam berhasil meraih kemenangan gemilang. Roderick sendiri menghilang,
dan di duga ia tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan
di tepi sungai.
Gubernur Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada
Khalifah Al-Walid, melukiskan jalannya peperangan Rio Barbate.
“Penaklukan ini berbeda dari penklukan-penaklukan lain. Peristiwa
seperti kiamat,” tulisnya.
Kemenangan telak dalam pertempuran di
Sungai Barbate itu membentang jalan bagi masuknya Thariq bin Ziyad
menuju kota Sevilla yang dijaga oleh benteng-benteng kuat. Tapi sebelum
merebut Sevilla, Thariq lebih dulu menaklukkan daerah-daerah lain yang
lebih lemah. Sebagian ditaklukkan dengan cara damai, tapi sebagian
terpaksa dengan kekerasan karena warga setempat melawan. Mereka bersikap
ramah terhadap penduduk yang tidak melawan.
Pasukan Thariq yang
sudah lebih besar karena ada tambahan pasukan baru, kini mengarah ke
Toledo, ibukota Visigoth (Gotik Barat). Di jalan ke Toledo itu mereka
menyapu kota Ecija dimana sempat terjadi perdamaian dan menerima
kekuasaan Muslim atas wilayah itu.
Dengan cepat Thariq berusaha
menaklukkan sebagian besar tanah Spanyol, yang oleh orang Arab dinamakan
Al-Andalus (Andalusia) itu. Ia lalu membagi-bagi pasukannya ke dalam
beberapa kelompok. Satu pasukan berhasil merebut Arkidona tanpa
perlawanan, dan pasukan lainnya juga dengan mudah merebut kota Elvira
dekat Granada. Ia lalu menaklukkan Cordoba dan sebagian wilayah Malaga.
Kemudian diteruskan dengan mengepung Granada yang berhasil ditaklukkan
dengan jalan kekerasan.
Thariq lalu menuju ibukota Toledo. Di dalam
perjalanan dia menyerang kota Murcia dan menghancurkan kerajaannya
sampai lumat. Ketika pasukan Islam di Toledo ternyata para pemimpin
Gotik telah meninggalkan wilayah itu. Thariq memasukinya dengan mudah.
Ketika itu pasukannya didukung pula oleh ksatria-ksatria Kristen lokal
yang tak suka kekuasaan Bangsa Gotik Barat di negaranya.
Thariq
terus mengejar para pejabat Gotik ke gunung, hingga mendapatkan harta
rampasan yang sangat banyak. Harta dan para tawanan dibawa ke Toledo. Di
sana para tawanan dipekerjakan untuk membangun kembali kota itu, antara
lain dengan membangun 365 tiang terbuat dari batu Zabarjud.
Musa
bin Nusair lalu mengirim surat kepada Thariq bin Ziyad, dan
memerintahkannya untuk menghentikan gerakan, dan tetap berada di tempat
surat itu tiba. Tapi, Thariq malah mengumpulkan para pejabatnya,
merundingkan strategi perang. Semuanya berpendapat melaksanakan perintah
Musa akan mempersulit strategi perang mereka. Sebab, sudah terbuka
untuk merekrut pasukan asal Toledo dan meraih momentum untuk menyerang
lawan yang belum menyadari situasi.

Karena itu Thariq melanjutkan penaklukan seraya merekrut milisi dari
warga Toledo yang sudah kalah. Thariq mengabarkan keputusannya ini
kepada Musa bin Nushair disertai alasan-lasannya.
Ketika pesan
Thariq sampai, Musa langsung berangkat ke Spanyol pada bulan Juni 712 M
dengan membawa 18.000 tentara, kebanyakan orang Arab. Dan seperti yang
pernah disepakati dengan Thariq, pasukan Musa bin Nushair segera menuju
Sevilla, kota terkuat Spanyol saat itu. Sebelum ke Sevilla pasukan Musa
menaklukkan Medina Sidon dan Carmona. Musa mengepung ketat kota Sevilla
dan akhirnya berhasil menghancurkan kota pusat kebudayaan Spanyol itu.
Namun kota itu ditinggalkan Musa dalam keadaan kobaran api dan ia
melanjutkan perjalanan ke arah Toledo.
Warga Sevilla tetap tak rela
terhadap pendudukan oleh pasukan Muslim di sana. Setelah panglima Musa
bin Nushair meninggalkan kota itu, milisi Sevilla kembali beraksi
mengobarkan pemberontakan. Mereka dapat membunuh tentara Muslim.
Mendengar berita itu, Musa segera mengirim anaknya Abdul Aziz, untuk
kembali ke Sevilla. Ia sendiri terus menuju Toledo.
Mendengar kabar
akan datangnya panglima utamanya, Musa bin Nushair, Thariq segera keluar
ke perbatasan Toledo untuk menyambut Musa. Namun Musa sangat marah
kepadanya. Thariq dianggap telah mengabaikan perintahnya untuk
menghentikan sementara penaklukkan sampai ia datang ke Spanyol. Begitu
marahnya Musa sampai ia memasukkan jendralnya itu ke dalam penjara
layaknya seorang penjahat.
Di depan sidang dewan pertahanan, Musa
menyatakan memecat Thariq bin Ziyad, dengan tujuan memperbaiki segala
sesuatu yang telah dilakukan Thariq. Sekalipun Thariq berupaya
menjelaskan bahwa keputusannya itu dilakukan demi kemaslahatan kaum
Muslimin dan sudah dimusyawarahkan dengan para penasehat, Musa tetap
teguh pada pendiriannya. Ia mengganti Thariq dengan Mughits bin
Al-Harits, tapi Mughits menolaknya. Ia segan menjadi komandan di atas
Thariq sang pemeberani.
Mughits bahkan bertekad membela Thariq bin
Ziyad. Diam-diam dia mengirim kabar kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul
Malik tentang situasi yang berkembang. Al-Walid sangat marah
mendengarnya. Ia lalu menyurati Musa dan memerintahkan agar kedudukan
Thariq dipulihkan sebagai komandan pasukan. Dan Musa menaati perintah
pemimpinnya di Damaskus itu.
Kemudian kedua panglima itu bergerak
terus ke utara, hingga berhasil menaklukkan Castilla, Aragon dan
Catalonia (Barcelona). Keduanya bahkan sampai ke pegunungan Pyrennes
yang menjadi batas antara Spanyon dan Perancis. Sekiranya tidak ada
perintah dari Damaskus untuk menghentikan penaklukan, niscaya gerakan
mereka berdua tak tertahankan untuk menguasai seluruh benua Eropa.
Perjalanan hidup panglima Thariq bin Ziyad, sang penakluk Spanyol yang
agung telah menjadi bagian dari sejarah patriotisme Islam melalui
penaklukan Andalusia. [Widad/Miftahul Jannah]